Breaking News

Cerita Dewasa Di Perantauan 3

Vimax ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya

Cerita Dewasa Di Perantauan 3 – Aqu ingat janjiku hari ini untuk
mengembalikan foto dewasa milik Dito. Tapi di mana foto itu ? Jangan-
jangan ada yg mengambilnya. Aqu yakin betul kemarin aqu selipkan di
antara buku Fisika dan Stereometri (kedua buku itu memang lebar,
bisa menutupi). Nah ini dia ada di dalam buku Gambar. Pasti ada seseorang
yg memindahkannya. Logikanya,
sebelum orang itu memindahkan, tentu ia sempat melihatnya. Tiba-tiba
aqu cemas. Siapa ya ? Si Mar, Tinah, atau Aunty ? Atau lebih buruk lagi,
Oom Ton ? Aqu jadi memikirkannya. Siapapun orang rumah yg melihat foto itu,
membuatku malu sekali! Yg penting, aqu harus kembalikan ke Dito sekarang.

Cerita Dewasa, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Dewasa 2017, Cerita Dewasa Terbaik, Cerita Dewasa Terhangat, Cerita Dewasa Nyata, Cerita Dewasa ABG, Cerita Dewasa Tante
Cerita Dewasa Terbaru

Siangnya pulang sekolah waktu aqu masuk ke ruang keluarga, Si Mar sedang
memijit punggung Aunty. Aunty tengkurap di karpet, Si Mar menaiki bokong
Aunty. Punggung Aunty itu terbuka 100 %, tak ada tali kutang di sana. Putihnya
mak..! Si Mar cepat-cepat menutup punggung itu waktu tahu mataqu menjelajah
ke sana, sambil melihatku dgn senyum penuh arti. Sialan! Si Mar tahu persis
kenakalanku. Aqu masuk kamar. Hilang kesempatan menikmati punggung putih
itu. Tadi pagi aqu lupa membawa buku Gambar gara-gara mengurus foto si Dito.
Aqu berniat mempersiapkan dari sekarang sambil berusaha melupakan punggung
putih itu. Sesuatu jatuh bertebaran ke lantai waktu aqu mengambil buku Gambar.
Sewaktu dadaqu berdebar kencang sesudah tahu apa yg jatuh tadi. Lepasan dari
majalah asing. Di tiap pojok bawahnya tertulis “Hustler” edisi tahun lalu. Satu serial
foto sepasang bule yg sedang berhubungan kelamin! Ada tiga gambar, gambar
pertama Si Perempuan terlentang di ranjang membuka kakinya sementara Si Lelaki berdiri
di atas lututnya memegang alatnya yg tegang besar (mirip punyaqu kalo lagi tegang cuma
beda warna, punyaqu gelap) menempelkan kepala penisnya ke kelamin Perempuannya.
Menurutku, dia menempelnya kok agak ke bawah, di bawah “segitiga terbalik” yg penuh
ditumbuhi rambut halus pirang.

Gambar kedua, posisi Si Perempuan masih sama hanya kedua tangannya
memegang bahu si Lelaki yg kini condong ke depan. Nampak jelas separoh
gagangnya kini terbenam di selangkangan Si Perempuan. Lho, kok di situ
masuknya ? Kuperhatikan lebih saksama. Kayaknya dia “masuk” dgn benar,
karena di samping jalan masuk tadi ada “yg berlipat-lipat”, persis gambar milik
Dito kemarin. Menurut bayganku selama ini, “seharusnya” masuknya penis agak
lebih ke atas. Baru tahu aqu, khayalanku selama ini ternyata salah! Gambar ketiga,
kedua kaki Si Perempuan diangkat mengikat punggung Si Lelaki. Badan mereka
lengket berimpit dan tentu saja alat Si Lelaki sudah seluruhnya tenggelam di
“tempat yg layak” kecuali sepasang “telornya” saja menunggu di luar. Mulut lelaki
itu menggigit leher perempuannya, sementara telapak tangannya menekan buah dada,
ibujari dan telunjuk menjepit putting susunya. Gemetaran aqu mengamati gambar-
gambar ini bergantian. Tanpa sadar aqu membuka resleting celanaqu mengeluarkan
milikku yg dari tadi sudah tegang. Kubaygkan punyaqu ini separoh tenggelam di tempat
si Mar persis gambar kedua. Kenyataanya memang sekarang sudah separoh terbenam,
tapi di dalam tangan kiriku. Aqupun meniru gambar ketiga, tenggelam seluruhnya,
gambar kedua, setengah, ketiga, seluruhnya..geli-geli nikmat… terus kugosok… makin
geli.. gosok lagi.. semakin geli… dan.. aqu terbang di awan.. aqu melepas sesuatu… hah..
cairan itu menyebar ke sprei bahkan sampai bantal, putih, kental, lengket-lengket. Enak,
sedap seperti waktu mimpi basah. Sadar aqu sekarang ada di kasur lagi, beberapa detik
yg lalu aqu masih melayg-layg.

He! Kenapa aqu ini? Apa yg kulaqukan ? Aqu panik. Berbenah. Lap sini lap sana.
Kacau! Kurapikan lagi celanaqu, sementara si Dia masih tegang dan berdenyut,
masih ada yg menetes. Aqu menyesal, ada rasa bersalah, rasa berdosa atas apa yg
baru saja kulaqukan. Aqu tercenung. Gambar-gambar sialan itu yg menyebabkan
aqu begini. Masturbasi. Istilah aneh itu baru aqu ketahui dari temanku beberapa hari
sesudahnya. Si Dito menyebutnya ‘ngeloco’. Aneh. Ada sesuatu yg lain kurasakan,
keteganganku lenyap. Pikiran jadi cerah meski badan agak lemas..

***

Sehari itu aqu jadi tak bersemangat, ingat perbuatanku siang tadi. Rasanya aqu sudah
berbuat dosa. Aqu menyalahkan diriku sendiri. Bukan salahku seluruhnya, aqu coba
membela diri. Gambar-gambar itu juga punya dosa. Tepatnya, pemilik gambar itu. Eh,
siapa yg punya ya ? Tahu-tahu ada di balik buku-bukuku. Siapa yg menaruh di situ ?
Ah, peduli amat. Akan kumusnahkan. Aqu berjanji tak akan mengulanginya lagi, tak
akan masturbasi lagi. Perasaan seperti ini masih terbawa sampai keesokkan harinya
lagi. Sehingga kulewatkan kesempatan untuk meraba dada Mar seperti kemarin. Ia
sudah memberi lampu hijau untuk aqu “tindaklanjuti”. Tapi aqu lagi tak bersemangat.
Masih ada rasa bersalah.

Hari berikutnya aqu “harus” tegang lagi. Bukan karena Si Mar yg (menurutku)
bersedia dijamah tubuhnya. Tapi lagi-lagi karena Si Putih molek itu, Aunty Delia.
Siang itu aqu pulang agak awal, pelajaran terakhir bebas. Sebentar aqu melewati
 Luki melempar-lempar bola di halaman, lalu masuk lewat garasi, seperti biasa. Hampir
pingsan aqu waktu membuka pintu menuju ruang keluarga. Aunty berbaring
terlentang, mukanya tertutupi majalah “Femina”, terdengar dengkur sangat halus
an teratur. Rupanya ketiduran sehabis membaca. Mengenakan baju-mandi seperti
dulu tapi ini warna pink muda, rambut masih terbebat handuk. Agaknya habis
keramas, membaca terus ketiduran. Model baju mandinya seperti yg warna putih
itu, belah di depan dan hanya satu pengikat di pinggang. Jelas ia tak memakai
kutang, kelihatan dari bentuk buah dadanya yg menjulang dan bulat, serta belahan
dadanya seluruhnya terlihat sampai ke bulatan bawah buah itu. Sepasang buah
bulat itu naik-turun mengikuti irama dengkurannya. Berikut inilah yg membuatku
hampir pingsan. Kaki kirinya tertekuk, lututnya ke atas, sehingga belahan bawah
baju-mandi itu terbuang ke samping, memberiku “pelajaran” baru tentang tubuh
perempuan, khususnya milik Aunty. Tak ada celana dalam di sana.

Auntyku ternyata punya bulu lebat. Tumbuh menyelimuti hampir seluruh
“segitiga terbalik”. Berwarna hitam legam, halus dan mengkilat, tebal di tengah
menipis di pinggir-pinggirnya. “Arah” tumbuhnya seolah diatur, dari tengah ke
arah pinggir sedikit ke bawah kanan dan kiri.

Berbeda dgn yg di gambar, rambut Aunty yg di sini lurus, tak keriting. Wow,
sungguh “karya seni” yg indah sekali! Kelaminku tegang luar biasa. Aqu lihat
sekeliling. Si Tinah sedang bermain dgn anak asuhnya di halaman depan. Si Mar
di belakang, mungkin sedang menyetrika. Kalo Aunty sedang di ruang ini, biasanya
Si Mar tak kesini, kecuali kalo diminta Aunty memijit. Aman!

Dgn wajah tertutup majalah aqu jadi bebas meneliti keperempuanan Aunty,
kecuali kalo ia tiba-tiba terbangun. Tapi aqu ‘kan waspada. Hampir tak bersuara
kudekati milik Aunty. Kini giliran bagian bawah rambut indah itu yg kecermati. Ada
“daging berlipat”, ada benjolan kecil warna pink, tampaknya lebih menonjol dibanding
milik bule itu. Dan di bawah benjolan itu ada “pintu”. Pintu itu demikian kecil,
cukupkah punyaqu masuk ke dalamnya ? Punyaqu ? Enak saja! Memangnya lubang
itu milikmu ? Bisa saja sekarang aqu melepas celanaqu, mengarahkan ujungnya ke situ,
persis gambar pertama, mendorong, seperti gambar kedua, dan …Tiba-tiba Aunty
menggerakkan tangannya. Terbang semangatku. Kalo ada cermin di situ pasti aqu bisa
melihat wajahku yg pucat pasi. Dengkuran halus terdengar kembali. Untung.,
nyenyak benar tidurnya. Bagian atas baju-mandinya menjadi lebih terbuka karena
gerakan tangannya tadi. Meski perasaanku tak karuan, tegang, berdebar, nafas
sesak, tapi pikiranku masih waras untuk tak membuka resleting celanaqu. Bisa
berantakan masa depanku. Aqu “mencatat” beberapa perbedaan antara milik Aunty
dgn milik bule yg di majalah itu. Rambut, milik Aunty hitam lurus, milik bule coklat
keriting. Benjolan kecil, milik Aunty lebih “panjang”, warna sama-sama pink. Pintu,
milik Aunty lebih kecil. Lengkaplah sudah aqu mempelajari tubuh perempuan.
Utuhlah sudah aqu mengamati seluruh tubuh Aunty. Seluruhnya ? Ternyata tak,
yg belum pernah aqu lihat sama sekali : puting susunya. Kenapa tak sekarang ?
Kesempatan terbuka di depan mata, lho! Mataqu beralih ke atas, ke bukit yg
bergerak naik-turun teratur. Dada kanannya makin lebar terbuka, ada garis tipis
warna coklat muda di ujung kain. Itu adalah lingkaran kecil di tengah buah,
hanya pinggirnya saja yg tampak. Aqu merendahkan kepalaqu mengintip, tetap
saja putingnya tak kelihatan. Ya, hanya dgn sedikit menggeser tepi baju mandi itu
ke samping, lengkaplah sudah “kurikulum” pelajaran anatomi tubuh Aunty. Dgn
amat sangat hati-hati tanganku menjangkau tepi kain itu. Mendadak aqu ragu.
Kalo Aunty terbangun bagaimana ? Kuurungkan niatku.

Tapi pelajaran tak selesai dong! Ayo, jangan bimbang, toh dia sedang tidur
nyenyak. Ya, dengkurannya yg teratur menandakan ia tidur nyenyak. Kembali
kuangkat tanganku. Kuusahakan jangan sampai kulitnya tersentuh. Kuangkat
pelan tepi kain itu, dan sedikit demi sedikit kugeser ke samping. Macet, ada yg
nygkut rupanya. Angkat sedikit lagi, geser lagi. Kutunggu reaksinya. Masih
mendengkur. Aman. Terbukalah sudah.. Puting itu berwarna merah jambu bersih.
Berdiri tegak menjulang, bak mercusuar mini. Amboi . indahnya buah dada ini. Tak
tahan aqu ingin meremasnya. Jangan, bahaya. Aqu harus cepat-cepat pergi dari sini.
Bukan saja khawatir Aunty terbangun, tapi taqut aqu tak mampu menahan diri,
menubruk tubuh indah tergolek hampir telanjang bulat ini.

***

Aqu jadi tak tenang. Berulang kali terbayg rambut-rambut halus kelamin dan
puting merah jambu milik Aunty itu. Apalagi menjelang tidur. Tanpa sadar aqu
mengusap-usap milikku yg tegang terus ini. Tapi aqu segera ingat janjiku untuk
tak masturbasi lagi. Mendingan praktek langsung. Tapi dgn siapa ? Cerita Dewasa 2017

Hari ini aqu pulang cepat. Masih ada dua mata pelajaran sebetulnya, aqu
membolos, sekali-kali. Toh banyak juga kawanku yg begitu. Percuma di kelas
aqu tak bisa berkonsentrasi. Di garasi aqu ketemu Aunty yg siap-siap mau pergi
senam. Dibalut baju senam yg ketat ini Aunty jadi istimewa. Tubuhnya memang
luar biasa. Dadanya membusung tegak ke depan, bagian pinggang menyempit
ramping, ke bawah lagi melebar dgn bokong menonjol bulat ke belakang, ke bawah
menyempit lagi. Sepasang paha yg nyaris bulat seperti gagang pohon pinang,
sepasang kaki yg panjang ramping. Walaupun tertutup rapat aqu ngaceng juga.
Lagi-lagi aqu terrangsang. Diam-diam aqu bangga, sebab di balik pakaian senam
itu aqu pernah melihatnya, hampir seluruhnya! Justru bagian tubuh yg penting-
penting sudah seluruhnya kulihat tanpa ia tahu! Salah sendiri, teledor sih. Ah,
salahku juga, buktinya kemarin aqu menyingkap putingnya.

“Lho, kok udah pulang, To” sapanya ramah. Ah bibir itu juga menggoda.
“Iya Aunty, ada pelajaran bebas” jawabku berbohong. Kubukakan pintu mobilnya.
Sekilas terlihat belahan dadanya waktu ia memasuki mobil. Uih, dadanya serasa
mau “meledak” karena ketatnya baju itu.

“Terima kasih” katanya. “Aunty pergi dulu ya”. Mobilnya hilang dari pandanganku.
Selasai mandi hari sudah hampir gelap. Di ruang keluarga Aunty sedang duduk
di sofa nonton TV sendiri.

“Senamnya di mana Aunty ?” Aqu coba membuka percakapan. Aqu memberanikan
diri duduk di sofa yg sama sebelah kanannya.

“Dekat, di Tebet Timur Dalam”. Malam ini Aunty mengenakan daster pendek
tak berlengan, ada kancing-kancing di tengahnya, dari atas ke bawah.

“Tumben, kamu tidur siang”

“Iya Aunty, tadi main voli di situ” jawabku tangkas.

“Kamu suka main voli ?”

“Di Kampung saya sering olah-raga Aunty” Aqu mulai berani memandangnya
langsung, dari dekat lagi. Ih, bahu dan lengan atasnya putih banget!

“Pantesan badanmu bagus” Senang juga aqu dipuji Auntyku yg rupawan ini.

“Ah, Kalo ini mungkin saya dari kecil kerja keras di kebun, Aunty” Wow, buah
putih itu mengintip di antara kancing pertama dan kedua di tengah dasternya.
Ada yg bergerak di celanaqu.

“Kerja apa di kebun ?”

“Mengolah tanah, menanam, memupuk, panen” Buah dada itu rasanya mau meledak keluar.

“Apa saja yg kamu tanam ?” tanyanya lagi sambil mengubah posisi duduknya,
menyilangkan sebelah kakinya.

Kancing terakhir daster itu sudah terlepas. Waktu sebelah pahanya menaiki
pahanya yg lain, ujung kain daster itu tak “ikut”, jadi 70 % paha Aunty tersuguh
di depan mataqu. Putih licin. Yg tadi bergerak di celanaqu, berangsur membesar.

“Macam-macam tergantung musimnya, Aunty. Kentang, jagung, tomat” Hampir
saja aqu ketahuan mataqu memelototi pahanya.

“Kalo kamu mau makan, duluan aja”

“Nanti aja Aunty, nunggu Oom” Aqu memang belum lapar. Adikku mungkin yg “lapar”

“Oom tadi nelepon ada acara makan malam sama tamu dari Singapur, pulangnya malam”

“Saya belum lapar” jawabku supaya aqu tak kehilangan momen yg bagus ini.

“Kamu betah di sini ?” Ia membungkuk memijit-mijit kakinya. Betisnya itu…

“Kerasan sekali, Aunty. Cuman saya banyak waktu luang Aunty, biasa kerja di
kampung, sih. Kalo ada yg bisa saya bantu Aunty, saya siap”

“Ya, kamu biasakan dulu di sini, nanti Aunty kasih tugas”

“Kenapa kakinya Aunty ?” Sekedar ada alasan buat menikmati betisnya.

“Pegel, tadi senamnya habis-habisan”

Di antara kancing daster yg satu dgn kancing lainnya terdapat “celah”. Ada yg
sempit, ada yg lebar, ada yg tertutup. Celah pertama, lebar karena busungan
dadanya, menyuguhkan bagian kanan atas buah dada kiri. Celah kedua memperlihatkan
kutang bagian bawah. Celah ketiga rapat, celah keempat tak begitu lebar, ada
perutnya. Celah berikutnya walaupun sempit tapi cukup membuatku tahu kalo
celana dalam Aunty warna merah jambu. Ke bawah lagi ada sedikit paha atas dan
terakhir, ya yg kancingnya lepas tadi.

“Mau bantu Aunty sekarang ?”

“Kapan saja saya siap”

“Betul ?”

“Kewajiban saya, Aunty. Masa numpang di sini engga kerja apa-apa”

“Pijit kaki Aunty, mau ?”

Hah ? Aqu tak menygka diberi tugas mendebarkan ini

“Biasanya sama Si Mar, tapi dia lagi engga ada”

“Tapi saya engga bisa mijit Aunty, cuma sekali saya pernah mijit kaki teman
yg keseleo karena main bola” Aqu berharap ia jangan membatalkan perintahnya.

“Engga apa-apa. Aunty ambil bantal dulu” Goyg pinggulnya itu…

Sekarang ia tengkurap di karpet. Hatiku bersorak. Aqu mulai dari pergelangan
kaki kirinya. Aah, halusnya kulit itu. Hampir seluruh tubuh Aunty pernah kulihat,
tapi baru inilah aqu merasakan mulus kulitnya. Mataqu ke betis lainnya mengamati bulu-bulu halus.

“Begini Aunty, kurang keras engga ?”

“Cukup segitu aja, enak kok”

Tangan memijit, mata jelalatan. Lekukan bokong itu bulat menjulang, sampai di
pinggang turun menukik, di punggung mendaki lagi. Indah. Kakinya sedikit
membuka, memungkinkan mataqu menerobos ke celah pahanya. Tanganku
pindah ke betis kanannya aqu menggeser dudukku ke tengah, dan..terobosan
mataqu ke celah paha sampai ke celana dalam merah jambu itu. Huuuh, sekarang
aqu betul-betul keras.

“Aah” teriaknya pelan waktu tanganku menjamah ke belakang lututnya.

“Maaf Aunty”

“Engga apa-apa. Jangan di situ, sakit. Ke atas saja”

Ke Atas ? Berarti ke pahanya ? Apa tak salah nih ? Jelas kok, perintahnya.
Aqupun ke paha belakangnya.

Ampuuun, halusnya paha itu. Kulit Aunty memang istimewa. Kalo ada lalat
hinggap di paha itu, mungkin tergelincir karena licin!

Aqu mulai tak tenang. Nafas mulai tersengal, entah karena mijit atau terangsang,
atau keduanya. Aqu tak hanya memijit, terkadang mengelusnya, habis tak tahan.
Tapi Aunty diam saja.

Kedua paha yg diluar, yg tak tertutup daster selesai kupijit. Entah karena aqu
sudah “tinggi” atau aqu mulai nakal, tanganku terus ke atas menerobos dasternya.

“Eeeh” desahnya pelan. Hanya mendesah, tak protes!

Kedua tanganku ada di paha kirinya terus memijit. Kenyal, padat. Tepi
dasternya dgn sendirinya terangkat karena gerakan pijitanku. Kini seluruh
paha kirinya terbuka gamblang, bahkan sebagian bokongnya yg melambung
itu tampak. Pindah ke paha kanan aqu tak ragu-ragu lagi menyingkap dasternya.

“Enak To, kamu pintar juga memijit”

Aqu hampir saja berkomentar :”Paha Aunty indah sekali”. Untung aqu masih
bisa menahan diri. Terus memijit, sekali-kali mengelus.

“Ke atas lagi To” suaranya jadi serak.

Ini yg kuimpikan! Sudah lama aqu ingin meremas bokong yg menonjol indah
ke belakang itu, kini aqu disuruh memijitnya! Dgn senang hati Aunty!

Aqu betul-betul meremas kedua gundukan itu, bukan memijit, dari luar daster
tentunya. Dgn gemas malah! Keras dan padat.

Ah, Aunty. Aunty tak tahu dgn begini justru menyiksa saya! kataqu dalam hati.
Rasanya aqu ingin menubruk, menindihkan kelaminku yg keras ini ke dua
gundukan itu. Pasti lebih nikmat dibandingkan waktu memeluk tubuh mbak
Mar dari belakang.

“Ih, geli To. Udah ah, jangan di situ terus” ujarnya menggelinjang kegelian.
Barusan aqu memang meremas pinggir pinggulnya, dgn sengaja!

“Cape, To ?” tanyanya lagi.

“Sama sekali engga, Aunty” jawabku cepat, khawatir saat menyenangkan ini berakhir.

“Bener nih ? Kalo masih mau terus, sekarang punggung, ya ?”. Aha, “daerah jamahan” baru!

Bahunya kanan dan kiri kupencet.

“Eeh” desahnya pelan.

Turun ke sekitar kedua tulang belikat. Lagi-lagi melenguh. Daster tak berlengan
ini menampakkan keteknya yg licin tak berbulu. Rajin bercukur, mungkin. Ah, di
bawah ketek itu ada pinggiran buah putih. Dada busungnya tergencet, jadi buah
itu “terbuang” ke samping. Nakalku kambuh. Waktu beroperasi di bawah belikat,
tanganku bergerak ke samping.

Jari-jariku menyentuh “tumpahan” buah itu. Tak langsung sih, masih ada
lapisan kain daster dan kutang, tapi kenyalnya buah itu terasa. Punggungnya
sedikit berguncang, aqu makin terangsang.

Ke bawah lagi, aqu menelusuri pinggangnya.

“Cukup, To..” Kedua tangannya lurus ke atas. Ia tengkurap total. Nafasnya terengah-engah.

“Depannya Aunty ?” usulku nakal. Lancang benar kau To. Aunty sampai menoleh
melihatku, kaget barangkali atas usulku yg berani itu.

“Kaki depannya ‘kan belum Aunty” aqu cepat-cepat meralat usulku. Taqut
dikiranya aqu ingin memijit “depannya punggung” yg artinya buah dada!

“Boleh aja kalo kamu engga cape”. Ya jelas engga dong! Aunty berbalik
terlentang. Sekejap aqu sempat menangkap guncangan dadanya waktu ia
berbalik. Wow! Guncangan tadi menunjukkan “eksistensi” kemolekkan buah
dadanya! Aduuh, bagaimana aqu bisa bertahan nih ? Tubuh molek terlentang
dekat di depanku. Ia cepat menarik dasternya ke bawah, sebagai reaksi atas
mataqu yg menatap ujung celana dalamnya yg tiba-tiba terbuka, karena gerakan
berbalik tadi. Silakan ditutup saja Aunty, toh aqu sudah tahu apa yg ada dibaliknya,
rambut-rambut halus agak lurus, hitam, mengkilat, dan lebat. Lagi pula aqu masih
bisa menikmati “sisanya”: sepasang paha dan kaki indah! Aqu mulai memijit
tulang keringnya. Singkat saja karena aqu ingin cepat-cepat sampai ke atas, ke paha.

Lutut aqu lompati, taqut kalo ia kesakitan, langsung ke atas lutut, kuremas dgn gemas.

“Iih, geli”. Aqu tak peduli, terus meremas. Paha selesai, untuk mencapai paha atas
aqu ragu-ragu, disingkap atau jangan. Singkap ? Jangan! Ada akal, diurut saja. Mulai
dari lutut tanganku mengurut ke atas, menerobos daster sampai pangkal paha.

“Aaaah, Tooo ….” Biar saja. Kulihat wajahnya, matanya terpejam. Aqu makin bebas.

Dgn sendirinya tepi daster itu terangkat karena terdorong tanganku. Samar-samar
ada baygan hitam di celana dalam tipis itu. Jelas rambut-rambut itu. Ke bawah lagi,
urut lagi ke atas. Aaah lagi. Dgn cara begini, sah-sah saja kalo jempol tanganku
menyentuh selangkangannya. Sepertinya basah di sana. Ah masak. Coba ulangi lagi
untuk meyakinkan. Urut lagi. Ya, betul, basah! Kenapa basah ? Ngompol ?
Aqu tak mengerti.

“To …” panggilnya tiba-tiba. Aqu memandangnya, kedua tanganku berhenti
di pangkal pahanya. Matanya sayu menantang mataqu, nafasnya memburu,
dadanya naik-turun.

“Ya, Aunty” mendadak suaraqu serak. Dia tak menyahut, matanya tetap
memandangiku, setengah tertutup. Ada apa nih ? Apakah Aunty ….. ? Ah,
mana mungkin. Kalo Aunty terrangsang, mungkin saja, tapi kalo mengajak ?
Jangan terlalu berharap, To!

Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online cerita sex

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

..